Monday, 11 January 2010 00:00
I Gusti Ayu Putu Erlinayanthi
Puisi Bali
Dengan apa harus kuucapkan tentang asa dihati. Telah kupelajari permainan musim hingga keujung bayangan bumi. Segenap kesempurnaan yang dituturkan belum juga kutemukan. Cerita klasik generasi kegenerasi mungkin hanya sebuah patahan dongeng.
Namun tak kutemukan bagian halaman yang hilang, hingga kuyakin kebenaran dongeng yang kudengar.
Read more...
Monday, 11 January 2010 00:00
I Gusti Ayu Putu Erlinayanthi
Puisi Bali
Ruang penghimpit pori – pori anganku terasa sesak oleh hiburan tiap minuman yang terbuang membasahi alas kekeringan pada lembar kanvas terbatas ; yang terbaru dari lukisan abstraku.
Tiap bentuk yang kuwarnai penuh dagelan berat dan sarat ritual tak terencana. Rancanganku tak sekedar adonan warna semata namun rumus dari tiap lirikan yang tak terucapkan. Maka berhentilah menghitung satu demi satu dosa penghias pusung gonjerku.
Read more...
Monday, 11 January 2010 00:00
I Gusti Ayu Putu Erlinayanthi
Puisi Bali
Pandangku sedikit perih bila bola mata gigih mengekor hamparan bingkai – bingkai kaca. Tak ada sisa wujud bayangan dari palm ungu saat daun-daun jambu batu merebah dikelopak sunyiku. Jujur saja musim gugur menggabungkan diri kekemarau sebagai sinyal perburuan kolaborasi tanpa henti.
Read more...
Monday, 11 January 2010 00:00
I Gusti Ayu Putu Erlinayanthi
Puisi Bali
Jenaka yang bermain disudut matamu, cukup memberiku kekuatan untuk bertahan melalui hari ini. Kerlingan nakal musim menjatuhkan waktu dihadapku. Membuat sore menjadi tawanan dari manis rayuan tak dikenal. Baiklah kutemani menunggu perguliran senja yang belum sempat kita miliki bersama. Dan hentakan langkahku sedikit terhenti atas wacana hitam putih.
Read more...
Monday, 11 January 2010 00:00
I Gusti Ayu Putu Erlinayanthi
Puisi Bali
Angin mempunyai bahasa tersendiri. Namun tiada kamus untuk membuat kosakatanya. Ramah sapaan yang terhembus membuat aku menghormati laku. Padahal aku tak pernah begitu mendalami tiap arti yang dimaksudkan. Seperti itukah rupa angin.
Read more...
Monday, 11 January 2010 00:00
I Gusti Ayu Putu Erlinayanthi
Puisi Bali
Kaki menyeret optimisme akan tanah gersang tanpa senyum. Namun kuhadir membawa setangkup senyum tulus dengan racikan sedikit kedamaian. Dan nyatanya senyumku berbalas rangkulan. Seiring permainan kita mencumbu waktu untuk mengikis keterasinganku pada belahan utara.
Read more...
|
dalemmmmmmm ayu
EH..Bikin puisi lukisan pelangi juga ...
Mantaps...oiii
ken ken kabare?