Tak terurai akar-akar dari segenap pembicaraan yang tiada pernah kita simpulkan. Topik-topik yang menjadi pilihan nurani, setia membayangi paragraf menyelesaikan wacana. Namun itu hanya kadang-kadang saja. Wacana dalam setiap pembukaan harusnya manis dan seperti itulah yang bernama keindahan. Terucapkan begitu saja kepada setiap aroma sebagai nyawa sebuah percakapan.
Jika rangkaian keringat yang selalu kita jalin dalam berbagai pose, mustinya kita menghayati rasa keringat itu sendiri. Mungkin aku tak menyukai segenap keindahan dari letih yang menjelma dari butiran keringat. Karena pori-pori yang tersedia tak seutuhnya menjadi milik aktivitas.
Senyum terasa masih menjadi milikku, musti telah kuberikan dari dulu. Tentu tak bisa aku kurangi sedikitpun. Layaknya sebuah senyum tentu saja ikhlas menjadi sebuah kebebasan. Namun dimanakah rumahnya? Atau adakah sebuah pembebasan yang harus aku jalani.
Dasi yang melekat di leherku terkadang mencekik. Padahal kenampakannya sangat mewah dan anggun dalam setiap jeritan yang kubisikkan. Aku ingin mencuci kaki dan melepaskan debu lekang pada tiap selipan jari kakiku. Akan aku miliki sebuah diri sebagai komunitas yang sedang aku hadapi. Setidaknya tengah aku belajar untuk mencintai komunitas yang belum aku kenal dengan nama yang lahir dari penglihatanku.
Masa ini mungkin pekan yang memberatkan. Namun sesudah hujan selalu ada pelangi. Dan sebuah hujan selalu ada pelangi. Dewi pelangi tengah menunggu aku jauh di depan sana, dan ada sesuatu yang direncanakannya untukku.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...