Home Kaki Langit Tampa Cadar (untuk Iyan, Bali Post, 28 April 2002)

Tampa Cadar (untuk Iyan, Bali Post, 28 April 2002)

Print PDF
Aku tiba di koridor panjang kesayanganku. Dengan rahim perih menuntut pengakuan jujur dari segenap insaf getaran nadi. Juga dahaga akan sebuah pengampunan. Sungguh aku menyukai tiap sudut dari koridor ini, hanya sayang aku lupa untuk menghitung jumlah lekukannya.

Melangkahkan kaki di atasnya membuat aku lelap pada rasa kemanusiaan yang terpupuk puluhan tahun hidupku. Aku rasa aku mulai terbiasa dengan mereka, mungkin mereka juga.

Perih ini hanya sementara, sekaleng cola pun pasti melarutkan tiap ikatan pikirku. Aku berdoa agar syarafku kembali pulang dengan sehat dan baik-baik saja. Kidung pujangga picisan telah tertumpuk di ranjangku dengan mesra.

Tak ada niat untuk menjadi seorang yang baik kali ini. Aku meninggalkan cadar di kamar mandi dan tertinggal begitu saja. Aku sebenarnya malu akan ketelanjangan di hadapan pikirku. Jadi begitu polos tanpa seni disana-sini. Liar lirikanku tentu mengumbar gelak heran. Jujurlah! Tak cukup mahir untukmu bersembunyi dari kejaran liarku.

Jika jengkal tanah Bali tak bisa bicara padamu, biar lirikan nakal dan lentik jemari gadisnya menjelaskan. Aku akan mengantar keinginanmu untuk menjadi satu dari bagian tanah yang membuatku hidup sampai saat ini. Dan tegukan cola akan melepaskan satu dari perih rahimku.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Member

Connect

Twitter

Latest Comments