Melangkahkan kaki di atasnya membuat aku lelap pada rasa kemanusiaan yang terpupuk puluhan tahun hidupku. Aku rasa aku mulai terbiasa dengan mereka, mungkin mereka juga.
Perih ini hanya sementara, sekaleng cola pun pasti melarutkan tiap ikatan pikirku. Aku berdoa agar syarafku kembali pulang dengan sehat dan baik-baik saja. Kidung pujangga picisan telah tertumpuk di ranjangku dengan mesra.
Tak ada niat untuk menjadi seorang yang baik kali ini. Aku meninggalkan cadar di kamar mandi dan tertinggal begitu saja. Aku sebenarnya malu akan ketelanjangan di hadapan pikirku. Jadi begitu polos tanpa seni disana-sini. Liar lirikanku tentu mengumbar gelak heran. Jujurlah! Tak cukup mahir untukmu bersembunyi dari kejaran liarku.
Jika jengkal tanah Bali tak bisa bicara padamu, biar lirikan nakal dan lentik jemari gadisnya menjelaskan. Aku akan mengantar keinginanmu untuk menjadi satu dari bagian tanah yang membuatku hidup sampai saat ini. Dan tegukan cola akan melepaskan satu dari perih rahimku.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...