Home Kaki Langit Perangkai Kata (Bali Post, 6 April 2002)

Perangkai Kata (Bali Post, 6 April 2002)

Print PDF
Aku selalu mencoba mengingat - ingat bentuk dari setiap ucapan yang kita serahkan kepada angin dari sebuah teras rapuh. Adakalanya jenaka memandu kita untuk mengingat masa kanak yang sesengguhnya sangat indah. Atau kita sepakat saja untuk memberi kosakata yang lain dari setiap perbincangan kita.

Pengembaraan kita mengejar sederet bait-bait puisi lalu mencoba untuk meneriakkan tiap judul puisinya. Jika ada puisi yang tertinggal di masa kemarin sudahlah. Tak usah kau ingat ingat sejumlah kata tersebut. Kau bukanlah sang pembaca puisi. Yang wajib menghayati setiap aksara pujaan dengan rima pemikatnya.

Aku tahu dunia tak terputus dari setiap huruf. Kita yang akan merangkai tiap kata. Dan dunia akan lantang membicarakan makna yang kita selipkan diparuh jeda.

Tak ada kata yang tak bermakna. Bila suatu zaman tak ada kata lagi yang bermakna lagi maka berikan makna yang sesungguhnya dalam rangkaian kata yang kau ucapkan. Tentunya angin akan berhenti bertiup dan dan mengikuti bayangan dari aroma tubuhmu.

Dan aku menatap engkau sedang memberikan hatimu pada kehidupan kita sebagai seorang perangkai kata. Banyak kata yang belum sempat terangkai. Dan mereka selalu menunggu uluran tangan darimu.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Member

Connect

Twitter

Latest Comments