Home Kaki Langit Awal Perjalanan

Awal Perjalanan

Print PDF
Hari ini aku enggan melangkahkan kaki mengikuti peran si waktu. Sebab ia yang menarikku untuk datang dan juga menarikmu untuk datang. Hanya saja kayuhan dayungku tertuju diarah yang berbeda. Kadang peranku dihari ini sebagai ombak, dan dihari kemarin sebagai penghitung buih ombak. Hingga aku makin terjebak didalam laknku tanpa tahu babak berikutnya.

Sudahlah! Kereta akan segera melaju, membawamu pergi pada derit-derit roda tanpa berkesudahan. Pentasmu telah digariskan, seusai kita menatap senja dihalaman samping. Rupanya aku belum menjadi siapa-siapa. Yang punya cukup kekuatan hingga roda kereta tak berderit lagi.

Duduklah di kursimu dengan tenang. Bila kereta telah berjalan dan tanpa sengaja engkau memandang langitbiru, kuyakinkan engkau untuk mengingatku sebab aku selalu menyukai biru. Ciumlah gelang yang melingkar ditanganmu saat wangi melati merajah dan membawa kenangan pada rumah. Disitulah aku membelai lumpur, merawat melati dan memanjakan rumput liar yang tumbuh di pematang sawahku. Karena mereka senantiasa rindu pada pijakan kaki dan senandung kita.

Akhirnya kereta berangkat, memulai derit rodanya seiring engkau mulai mengubahnya jadi lagu dalam rangkaian dawai. Namun aku tak ingin mendengar lagumu sumbang. Ceritakanlah tentang kekuasaan waktu yang membawa pada pentas kita masing-masing. Atau tentang langit biru bahkan melati yang mengingatkan pada rumah.
Comments
Add New Search
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

 

Member

Connect

Twitter

Latest Comments