Sudahlah! Kereta akan segera melaju, membawamu pergi pada derit-derit roda tanpa berkesudahan. Pentasmu telah digariskan, seusai kita menatap senja dihalaman samping. Rupanya aku belum menjadi siapa-siapa. Yang punya cukup kekuatan hingga roda kereta tak berderit lagi.
Duduklah di kursimu dengan tenang. Bila kereta telah berjalan dan tanpa sengaja engkau memandang langitbiru, kuyakinkan engkau untuk mengingatku sebab aku selalu menyukai biru. Ciumlah gelang yang melingkar ditanganmu saat wangi melati merajah dan membawa kenangan pada rumah. Disitulah aku membelai lumpur, merawat melati dan memanjakan rumput liar yang tumbuh di pematang sawahku. Karena mereka senantiasa rindu pada pijakan kaki dan senandung kita.
Akhirnya kereta berangkat, memulai derit rodanya seiring engkau mulai mengubahnya jadi lagu dalam rangkaian dawai. Namun aku tak ingin mendengar lagumu sumbang. Ceritakanlah tentang kekuasaan waktu yang membawa pada pentas kita masing-masing. Atau tentang langit biru bahkan melati yang mengingatkan pada rumah.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...