Belahan kedamaian membawaku pada mimpi-mimpi berjumpa dengan Sang Guru. Memanjakan aku pada sebuah keputren penuh melati. Kuterlena hingga terbangun dan menemukan taman di halaman depan penuh melati.
Nyatanya yang abadi adalah sebuah perubahan. Ia yang mengantar waktu untuk menjemput aku kembali pada pijakan tanahku semula. Aku pulang meninggalkan aroma melati yang ada disetiap hati mereka. Kubiarkan senyumku berbingkai dan kutinggalkan pada satu sisi rumah, hingga perubahan tak menjamahnya.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...