Tiap bentuk yang kuwarnai penuh dagelan berat dan sarat ritual tak terencana. Rancanganku tak sekedar adonan warna semata namun rumus dari tiap lirikan yang tak terucapkan. Maka berhentilah menghitung satu demi satu dosa penghias pusung gonjerku.
Palingkan wajahmu dari lamunan gelapku. Aku tak ingin mempesona pandangan batinmu dalam sebuah bayangan pendosa. Pesona yang memahat berbagai topeng sebagai cadar untuk menyembunyikan arti tiap lirikan liar. Tak pantas aku jadi pengayun palu untuk menjatuhkan nama yang sesuai untuk percintaan kusam tiga musim.
Engkau yang membubuhkan nama pada lukisan abstrak yang kuusung jauh – jauh. Juga tanda tangan kebesaran dari setiap kolektor warna – warna penghias lukisan tampa bingkai.
Dan layaknya abstrak, warnanya bergeletakan diantara keindahan yang tertahan.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...