Satu lembar terlewati. Mungkin aku lanjutkan merakit bahasa sunyiku. Aku akan melanjutkan untuk menjerumuskan diri di pergumulan pada salah satu komunitas langit. Tulisanku dalam kepingan salah satu biji aksara, namun kenyatannya dia terlalu betah untuk mengendap dalam alam pemikiranku. Tak ada sisa dari perjamuanku yang menunggu persetujuan angin untuk membuai kalungan kata yang baru dengan percikan inspirasi di kisi-kisinya.
Katanya usapan jemariku seperti sentuhan air yang membasuh pahatan wajah puncak dengan gemericik tegas memberi irama bagi tumbuhan liar menari. Jernih suaranya bernyanyi membawa hati untuk membasuh pelaminan yang belum sempat aku nikmati.
Aku terdiam sejenak. Menunggu keinginanku berteriak tanpa nada sumbang sedikitpun. Kau mustinya tahu betapa aku merindukan guratan pahatku yang tercengkeram jemari tiap lipatan lontar. Membuat gending terbaru tanpa harus terjebak pada bayang-bayang romantisme alas zaman tradisional lagi.
Ini tak lagi sebagai sebuah kodrat alami. Kini kesulitanku bertambah dengan tugas untuk melupakan judul terdahulu dari tulisanku. Ia tertampung dalam sebuah semburat layu. Telah dibujuknya aku untuk memberikan sebuah mimpi baru dalam lelap.
Kadang nama yang bagus aku pagut begitu saja di potongan mimpi, dan saat aku terbangun aku melihat langit di atasku telah terang. Langit selalu berhasil untuk menggodaku, senyum, saja untuknya.
| Comments |
|







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...