Bila nama itu begitu mengusik jalan nafas yang kau hembuskan, panggilah aku seperti maumu. Agar pahatan baru menjadi sesempurna yang kita bangun. Gadis melati mungkin kau suntingkan di antara gelung mahkota penerus zaman dan namanya kelak memenuhi ruang suci ini dengan upacara yang layak.
Melatiku dulu telah berbunga, wanginya tetap menggugah peramu aroma. Keklasikan tradisi yang mentakdirkan riwayatnya sebagai sebuah perpaduan kesederhanaan dan paket keagungan. Namun kelopak bunganya tak sesempurna kiasan putih warnanya sebab pemahat hujan menghendaki setangkai melati dalam setiap musim. Aku pun terlalu meyakini kejujuran yang sebenarnya abstrak.
Namun musim telah berganti. Telah dijadikan gadis melati yang berbeda. Hanya kesempurnaan yang sedikit membangkitkan aku dalam menyusun gending-gending smarandana. Dan aku menyukai bias bintang yang mengenai permukaan kelopakku. Mengajarkan penghayatan yang lebih meresap di tiap bentuk putiknya dari jangkuan tangan belahan utara.
Jadikan ia gadis melati yang lengkap dengan dedaunan dan pucil yang mungil. Itu sebuah kewajiban yang tak pernah kita ingkari. Panggil ia sebagai gadis melati sebab ia tumbuh sebagai sebuah gadis mengisi sebuah taman. Memberi wangi tersendiri untuk peramu aroma.
| Comments |
|







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...