Aku tak berencana bahwa pada tiap puisi yang terlahir dari tanganku tak mempunyai nama yang indah. Tak terpikirkan bahwa akan mengacak-acak tiap hal yang masuk ke mulutku. Sebagai tempat penangkaran dari semua tabiatku. Padahal pagi selalu menyediakan sarapan dengan perjalanan sebagai hidangan utama.
Tak akan aku tanyakan untuk apa kamu datang menawarkan berbagai perjalanan, jika semuanya harus dinikmati hanya dengan bayangan dari siang dan gelap bergerak memata-matai lingkar tubuhku untuk menari lekuk tubuh yang bisa kau tutupi dengan seutas tali.
Ada kalanya aku ingin berontak terhadap bayangan yang selalu setia menemani, bahkan menurutku terlalu setia, hingga kemana pun aku selalu berteman bayang-bayang itu. Aku ingin menyuguhkan padamu sebuah sarapan baru, dan perjalanan bukanlah menu utamanya.
Kertas di atas meja sedang bertumpuk, dan aku tak bisa menikmati sarapan pagi ini. Apa lagi hingga menyeberang lautan untuk menuju kotamu. Keinginan ini biar kutahan dulu, tak akan menimbulkan sebuah penyakit yang berarti. Jika pun nanti aku terbaring aku tak akan menikmati apa-apa selain kesendirian tanpa bayanganku.
Setiap sarapan yang kau hidangkan tentu telah kau bumbui dengan doa-doa hingga membuatku senang pada tiap suapan. Suatu saat nanti mungkin kita bisa menikmati sarapan bersama, dan perjalanan sebagai menu utamanya. Jangan khawatir aku akan menyiapkannya di meja makan, dan akan kusuapi pagi dengan menu yang berbeda.
| Comments |
|







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...