Jika suara angin membawa sejumlah hujan, biar aku sediakan pemintal butir-butir hujan. Dari kelam warna langit juga pecahan tanah berkapur. Nyanyian langit tak pernah menyisakan helaian flamboyant untuk mengawali musim percintaan ritual.
Kabut menutup kepulan dupa di sekeliling linggam. Walau sepintas doa yang terucap hanya penggal tatapan tanpa makna. Pernahkah terungkap keinginan batas wacana kata - kata kita bagi penghujan? Hanya menyerahkan air dari tawa juga tangis. Dan berlalu menuju arah hujan menjauhkan dedaunan flamboyant jatuh.
Sudahi musim berbunga, jika tak pernah melihat peri beranjak dewasa untuk menyeka hujan di musim itu. Dedaunan kering pun tak akan pernah tahu nama pesakitan macam apa di ruang kanvasku, saat kata-kata tak berbatas untuk menyelesaikan lukisan penghujan dan memajangnya tanpa warna.
Langit mana telah menyediakan begitu luas kanvas sebagai penampung arti nafas lukisan hujan. Kelana memang jejak hidup. Perjalanan, juga nama dari derai arus bicara. Mengapa tanpa warna ? jika percikan hujan mampu mengurai hitam dan putih atas segala kanvas yang tercipta dalam perjalanan untuk menemukan arti sebuah warna bagi lukisan penghujan.
Pintalan hujan mungkin akan serasi aku padukan dengan berbagai interior rumah lama hasil ruwatan pemahat Batuan. Dan bila aliran Sungai Yeh Ho lebih unik biar kutelusui tiap pelosok di pulauku untuk menemukan hulu airnya dan kupajang dengan segenap jiwa.
trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...