Telingaku sayup mendengar lagu yang biasa kau nyanyikan bersama iringan gitar. Tak akan pernah kudengar lagi lagu itu. Dalam sendiri kutapaki jalan hijau itu. Mengapa pucuk rumput yang menanyakan kawan sepermainan semasa kanak. Lembar pengaduan yang lampau kian usang, terlena pada dawai yang terpetik oleh jemari waktu. Usanglah sudah kini. Hanya menjadi sepotong cerita lama. Terkubur bersama kayu kering, lebur dalam api unggun.
Puisi tanpa kata yang selalu aku dengar, terlontar begitu saja dari matamu, yang sarat dan bermuatan musim dingin berkepanjangan. Adakah musim di matamu berubah ? Kuharap hujan di kotamu menumbuhkan kembang. Dan jika pulang nanti bawalah seikat mawar dari kota kembangmu.
| Comments |
|
Powered by !JoomlaComment 3.26







trims ya, link puisi website kamu sud...
wah,, sungguh mengharukan.. bagus bnget.
kita mempelajari permainan musim demi...
Nice posting. Thanks for the inspiration
tolong kata2 nya kamu pela jari tenta...