Home

Tumbal (Bali Post, 10 Februari 2002)

E-mail Print PDF
Ternyata semua baik-baik saja dan dengan skenario yang telah tersedia semuanya telah dipersiapkan. Peran yang ada telah terlatih dalam sebuah penjiwaan. Sebagai calon sebuah karya seni tak tersentuh kultur asing.

Topengku yang mana? Wajah usangku tertanggal pada salah satu dinding gedung usai kita mengadakan latihan tiap malam. Hingga kini aku tak lagi mengenakan wajah penuh misteri. Hanya pencarian yang sia-sia sebagai hasil kegiatan penguras pikiran sekaligus perasaan.

Jiwaku tak hanya merintih atas perintah yang tak kunjung berakhir. Kusempatkan untuk menyembunyikan air mata dari senyum kosong anak-anak yang bersama di latihan kita. Terpahat bahwa aku merasa masih menjadi dalang dari pada yang kita persiapkan berhari-hari. Pakailah topeng yang telah kubagikan, sebab aku selalu menginginkan yang terbaik.

Saat kalian mulai mencibir di belakangku, dan menyia-nyiakan penggalan jiwa yang kutanamkan dalam setiap dialog, pentas kita akan gagal. Lalu semuanya mengalir tanpa kalian sadari. Kuingatkan pentas malam ini bukan hanya aku. Namun setiap jiwa yang menginginkan pembaruan dari setiap angkatan. Kita telah memulainya. Entah kalian mengerti apa yang telah aku katakan.

Gamelan telah ditabuh, tak perlu ada kata-kata sambutan sebagai penghias panggung, lagi pula nafas dekoratif menyusup dalam setiap aliran darah kita. Bersiaplah, asalnya pengorbanan kita menjadi tumbal dari sebuah keberhasilan.
Comments
Add New Search
blih nengah  - dalemmmmmmm     |2009-08-27 09:12:12
dalemmmmmmm ayu
Write comment
Name:
Email:
 
Website:
Title:
UBBCode:
[b] [i] [u] [url] [quote] [code] [img] 
 

3.26 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."

Last Updated ( Thursday, 02 July 2009 11:20 )  

Member

Connect

Twitter

Latest Comments